TRVLA.ID, CIREBON– Perekonomian Kabupaten Cirebon sepanjang tahun 2025 mencatat kinerja positif di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik serta dampak perubahan iklim fenomena El Nino. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Cirebon mencatat, pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 6,23% atau berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Barat yang sebesar 5,32%.

Kepala BPS Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo, menyebut capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi daerah yang tetap terjaga di tengah tekanan eksternal.

“Perekonomian Kabupaten Cirebon masih mampu tumbuh positif 6,23% pada 2025, meski dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan dampak iklim. Ini menunjukkan struktur ekonomi daerah cukup resilien,” ujar Januarto Wibowo, Selasa (28/4/2026).

Dari sisi nilai, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) Kabupaten Cirebon tahun 2025 mencapai Rp 73,96 triliun, meningkat Rp 6,76 triliun dibanding tahun 2024 yang sebesar Rp 67,20 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 tercatat sebesar Rp 41,88 triliun, naik Rp 2,46 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 39,42 triliun.

Dari sisi lapangan usaha, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar dengan laju 18,66%, didorong peningkatan luas panen serta dukungan program ketahanan pangan yang melibatkan TNI dan Polri. Sektor ini juga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dengan kontribusi 2,20 poin persentase.

Selain itu, sektor Informasi dan Komunikasi tumbuh 13,46%, diikuti Transportasi dan Pergudangan 11,06%, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 9,76%, serta Jasa Perusahaan 8,49%.

Namun, tidak semua sektor tumbuh positif. Lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian mengalami kontraksi tajam sebesar -38,95%, serta Pengadaan Listrik dan Gas yang turun -0,64%. Sektor pertambangan juga menjadi pengurang pertumbuhan ekonomi sebesar -0,46 poin persentase.

Secara struktur, ekonomi Cirebon masih bertumpu pada tiga sektor utama, yaitu Industri Pengolahan dengan kontribusi 20,06%, Pertanian 16,53%, serta Perdagangan Besar dan Eceran termasuk Reparasi Mobil dan Motor sebesar 12,38%. Ketiga sektor ini menyumbang total 48,97% terhadap perekonomian daerah.

Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih mendominasi struktur ekonomi dengan kontribusi 84,73%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 24,76%, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 5,73%, serta Lembaga Non Profit 1,95%.

Pertumbuhan konsumsi pemerintah tercatat paling tinggi sebesar 7,89%, disusul konsumsi rumah tangga 4,24% dan konsumsi lembaga non profit 2,88%.

Januarto mengatakan, sumber pertumbuhan terbesar dari sisi pengeluaran masih berasal dari konsumsi rumah tangga yang menyumbang 3,47 poin persentase. Disusul konsumsi pemerintah sebesar 0,44 poin persentase, sementara komponen lain memberikan kontribusi relatif kecil.

“Struktur konsumsi rumah tangga yang dominan menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat masih menjadi penggerak utama pertumbuhan di Kabupaten Cirebon,” kata Januarto.

Januarto menyebutkan, dengan capaian 6,23%, Kabupaten Cirebon menempati posisi keempat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Jawa Barat. Peringkat pertama ditempati Kabupaten Kuningan sebesar 6,98%, disusul Majalengka 6,86%, Kabupaten Bandung 6,32%, Cirebon 6,23%, Garut 5,95%, dan Indramayu 3,09%.